BAB 1 "KONSEP DASAR"
1. Konsep Dasar Sistem
1.1 Definisi
Sistem adalah kumpulan komponen atau elemen yang saling berinteraksi dan
bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem dapat berupa fisik (seperti
mesin) atau non-fisik (seperti proses informasi)
1.2 Karakteristik
Suatu sistem mempunyai ciri-ciri karakteristik yang terdapat pada
sekumpulan elemen yang harus dipahami dalam megidentifikasi pembuatan
sistem. Adapun karakteristik sistem (Hutahaean, 2015:3) yang dimaksud
adalah
sebagai berikut:
1) Komponen
Sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan
bekerja sama untuk membentuk satu kesatuan. Komponen sistem dapat berupa sub sistem
atau bagian-bagian dari sistem.
2) Batasan sistem (boundary)
Daerah yang membatasi antara suatu sistem dengan sistem lainnya atau dengan
lingkungan luar dinamakan dengan batasan sistem. Batasan sistem ini memungkinkan
sistem dipandang sebagai satu kesatuan dan juga menunjukkan ruang lingkup
(scope) dari sistem tersebut.
3) Lingkungan luar sistem
(environment)
Apapun yang berada di luar batas dari sistem dan mempengaruhi system tersebut
dinamakan dengan lingkungan luar sistem. Lingkungan luar yang bersifat
menguntungkan wajib dipelihara dan yang merugikan harus dikendalikan agar tidak
mengganggu kelangsungan sistem.
4) Penghubung sistem (interface)
Media penghubung diperlukan untuk mengalirkan sumber-sumber daya dari sub
sistem ke sub sistem lainnya dinamakan dengan penghubung sistem.
5) Masukkan sistem (input)
Energi yang dimasukkan ke dalam sistem dinamakan dengan masukan system (input)
dapat berupa perawatan dan masukan sinyal. Perawatan ini berfungsi agar sistem
dapat beroperasi dan masukan sinyal adalah energi yang diproses untuk
menghasilkan keluaran (output).
6) Keluaran sistem (output)
Hasil dari energi yang telah diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran
yang berguna dinamakan dengan keluaran sistem (output). Informasi merupakan contoh
keluaran sistem.
7) Pengolah sistem
Untuk mengolah masukan menjadi keluaran diperlukan suatu pengolah yang dinamakan
dengan pengolah sistem.
8) Sasaran system
Sistem pasti memiliki tujuan atau sasaran yang sangat menentukan input
yang dibutuhkan oleh sistem dan keluaran yang dihasilkan.
1.3 Klasifikasi Sistem
Sistem dapat
digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
· Sistem Abstrak
X Sistem Fisik
Sistem
abstrak adalah sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide yang tidak tampak
secara fisik. Contoh : Sistem Teologi yang menerangkan hubungan manusia dengan
Tuhan.
Sedangkan
sistem fisik merupakan sistem yang ada secara fisik. Contoh : Sistem Komputer,
Sistem Keuangan
· Sistem Alamiah
X Sistem Buatan Manusia
Sistem
alamiah adalah sistem yang terjadi melalui proses alam tidak tidak dibuat oleh
manusia. Contoh pada sistem alamiah: sistem peredaran
bumi. Sedangkan sistem buatan manusia
adalah sistem yang dirancang oleh manusia. Contoh:
sistem robotika
· Sistem Deterministik X Sistem Probabilistik
Sistem
deterministik adalah sistem yang berinteraksi antara bagiannya yang dapat
diprediksi secara pasti. Contoh: sistem komputer. Sedangkan sistem probabilistik adalah sistem yang
tidak bisa diprediksikan secara pasti. Contoh: sistem
manusia
· Sistem Tertutup
X Sistem Terbuka
Sistem tertutup adalah sistem yang tidak berhubungan dan tidak terpengaruh oleh lingkungan luar. Contoh : tabung reaksi. Sedangkan sistem terbuka adalah sistem yang berhubungan dan terpengaruh oleh lingkungan luar. Contoh : sistem organisasi
2. Konsep Dasar Informasi
2.1 Definisi
Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan berarti bagi penerimanya. Data sendiri merupakan fakta atau kejadian yang dapat diobservasi dan dikumpulkan. Proses pengolahan ini bertujuan untuk memberikan makna dan nilai tambah bagi pengguna informasi.
2.2 Siklus Informasi
2.3 Mutu Informasi
a.
Kualitas informasi tergantung dari 3 (tiga) hal :
·
Informasi harus akurat:
informasi harus terbebas dari kesalahan-kesalahan, tidak bias dan tidak
menyesatkan.
·
Informasi harus tepat waktu: informasi yang
datang kepada penerimanya tidak boleh mengalami keterlambatan.
·
Informasi harus relevan: informasi memiliki manfaat
bagi penerimanya.
b.
Nilai informasi ditentukan oleh 2 (dua) hal:
·
Manfaat dari informasi tersebut.
· Biaya untuk mendapatkan informasi.
3. Konsep Dasar Sistem Informasi
3.1 Definisi
Suatu sistem di
dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi
harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak
luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
3.2 Komponen-Komponen Sistem Informasi:
a.
HARDWARE: media input, media
proses, media output, media simpanan luar
b.
SOFTWARE: sistem operasi, bahasa
pemrograman, paket aplikasinya
c.
DATABASE: Kumpulan File-File yang
saling berhubungan.
d.
PROSEDUR: alur kerja dari sebuah
sistem. Ruang Lingkup Sistem.
e.
USER & ADM
3.3 Peranan Sistem Informasi Bagi Manajemen:
1)
Dapat mendukung dalam pengambilan
keputusan
2)
Dapat mendukung kegiatan manajemen
Yang termasuk ke dalam kegiatan manajemen adalah:
1.
Perencanaan strategis
a.
Proses evaluasi lingkungan luar
organisasi: harus mampu bereaksi terhadap kesempatan-kesempatan dari lingkungan
luar dan tanggap terhadap tekanan-tekanan dari lingkungan luar.
b.
Penetapan tujuan
Tujuan adalah apa yang ingin
dicapai oleh organisasi. Tujuan ditetapkan oleh manajemen tingkat atas di dalam
proses perencanaan strategis yang bersifat jangka panjang.
c.
Penentuan strategis
Menentukan tindakan-tindakan
yang harus dilakukan oleh organisasi dengan maksud untuk mencapai
tujuan-tujuannya.
2.
Pengendalian manajemen
Yaitu proses untuk
meyakinkan bahwa organisasi telah menjalankan strategi yang sudah ditetapkan
dengan efektif dan efisien.
3.
Pengendalian operasi
Yaitu proses untuk
meyakinkan bahwa tiap-tiap tugas tertentu telah dilaksanakan secara efektif dan
efisien.
4. Tinjauan Umum Pengembangan Sistem
Dalam
era digital yang terus berkembang, pengembangan sistem informasi menjadi elemen
kunci bagi perusahaan untuk mencapai keberhasilan dan efisiensi dalam berbagai
aspek operasional. Artikel ini akan membahas pentingnya pengembangan sistem
informasi bisnis (SIB), bagaimana hal ini memengaruhi operasional perusahaan,
serta peran utamanya dalam mencapai tujuan bisnis.
a. Alasan Perusahaan Melakukan
Pengembangan Sistem
Pengembangan sistem informasi dalam suatu perusahaan merupakan langkah
strategis yang penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
operasional. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai alasan perusahaan
melakukan pengembangan sistem.
1. Permasalahan dari Sistem Lama
Sistem yang sudah ada sering kali menghadapi berbagai masalah yang
menghambat kinerja perusahaan. Beberapa permasalahan ini meliputi:
· Ketidakberesan: Sistem lama
mungkin mengalami ketidakakuratan data, baik karena kesalahan manusia maupun
kecurangan yang disengaja. Hal ini dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan
terhadap data dan informasi yang dihasilkan.
· Ineffisiensi Operasional: Proses
manual atau sistem yang tidak terintegrasi dapat menyebabkan pemborosan waktu
dan sumber daya. Dengan pengembangan sistem baru, perusahaan dapat
mengotomatiskan banyak proses, sehingga meningkatkan efisiensi.
· Kepatuhan terhadap Kebijakan:
Sistem lama mungkin tidak lagi sesuai dengan kebijakan manajemen yang baru atau
regulasi eksternal. Pengembangan sistem baru memungkinkan perusahaan untuk
mematuhi kebijakan dan regulasi terbaru.
2. Pertumbuhan Organisasi
Seiring dengan pertumbuhan organisasi, kebutuhan akan informasi yang
lebih luas dan kompleks juga meningkat. Hal ini meliputi:
· Volume Data yang Meningkat:
Pertumbuhan bisnis sering kali diiringi dengan peningkatan volume data yang
harus dikelola. Sistem lama mungkin tidak mampu menangani jumlah data yang
semakin besar, sehingga diperlukan sistem baru yang lebih mampu.
· Kebutuhan Informasi yang Beragam:
Dengan bertambahnya produk atau layanan, perusahaan membutuhkan sistem
informasi yang dapat memberikan analisis dan laporan yang lebih mendalam untuk
mendukung pengambilan keputusan.
3. Meraih Kesempatan
Pengembangan sistem juga dipicu oleh peluang baru yang muncul di pasar:
· Kecepatan Informasi: Dalam
lingkungan bisnis yang kompetitif, kecepatan dalam mendapatkan dan memproses
informasi sangat penting. Sistem informasi modern memungkinkan akses cepat ke
data real-time, mendukung keputusan strategis secara tepat waktu.
· Inovasi dan Adaptasi: Dengan
adanya teknologi baru, perusahaan dapat berinovasi dalam produk dan layanan
mereka. Sistem informasi membantu dalam mengidentifikasi tren pasar dan
kebutuhan pelanggan, sehingga perusahaan dapat beradaptasi dengan cepat.
4. Instruksi dari Pimpinan atau
Regulasi Eksternal
Pengembangan sistem juga bisa terjadi karena adanya instruksi dari
pimpinan perusahaan atau perubahan regulasi dari pemerintah:
· Direktif Manajemen: Pimpinan
sering kali mengarahkan untuk melakukan pengembangan sistem guna meningkatkan
kinerja organisasi secara keseluruhan.
· Peraturan Pemerintah: Perubahan
dalam regulasi atau standar industri juga dapat memaksa perusahaan untuk
memperbarui atau mengganti sistem informasi mereka agar tetap compliant.
b. Tahapan Pengembangan Sistem
Pengembangan Sistem Informasi (PSI) adalah suatu proses yang melibatkan
perancangan, implementasi, dan pemeliharaan sistem informasi yang bertujuan
untuk memenuhi kebutuhan organisasi atau perusahaan. Proses ini mencakup
langkah-langkah tertentu yang harus diikuti untuk memastikan sistem informasi
yang dikembangkan dapat beroperasi dengan baik dan memenuhi tujuan yang
diinginkan. Berikut adalah beberapa tahapan umum dalam pengembangan sistem
informasi:
1. Perencanaan (Planning)
Tahap awal ini merupakan fondasi dari seluruh proses pengembangan sistem.
Dalam tahap perencanaan:
· Identifikasi Kebutuhan: Tim
pengembang dan pemangku kepentingan mendiskusikan tujuan dan kebutuhan sistem
yang akan dibangun. Ini termasuk menentukan masalah yang ingin dipecahkan dan
tujuan bisnis yang ingin dicapai.
· Analisis Kelayakan: Dilakukan
untuk menilai apakah proyek tersebut layak dari segi biaya, waktu, dan sumber
daya. Hal ini membantu dalam membuat keputusan apakah proyek harus dilanjutkan
atau tidak.
· Penjadwalan dan Anggaran:
Menetapkan anggaran dan jadwal untuk proyek, serta mengidentifikasi sumber daya
yang diperlukan.
2. Analisis Sistem (System Analysis)
Setelah perencanaan, tahap berikutnya adalah analisis sistem:
· Pengumpulan Data: Mengumpulkan
informasi dari pengguna melalui wawancara, survei, atau observasi untuk
memahami kebutuhan bisnis secara mendalam.
· Dokumentasi Kebutuhan: Semua
kebutuhan fungsional dan non-fungsional didokumentasikan. Ini mencakup apa yang
harus dilakukan oleh sistem dan bagaimana sistem akan berinteraksi dengan
pengguna dan sistem lain.
· Modeling Proses Bisnis:
Menganalisis dan memodelkan proses bisnis yang ada untuk mengidentifikasi area
yang perlu diperbaiki.
3. Desain Sistem (System Design)
Setelah kebutuhan diidentifikasi, tahap desain dimulai:
· Desain Arsitektur: Merancang
struktur umum sistem, termasuk komponen perangkat keras dan perangkat lunak
yang diperlukan.
· Desain Antarmuka Pengguna:
Mengembangkan antarmuka pengguna yang intuitif agar pengguna dapat berinteraksi
dengan sistem dengan mudah.
· Desain Basis Data: Merancang skema
basis data untuk menyimpan informasi secara efisien dan memastikan integritas
data.
4. Implementasi (Implementation)
Tahap ini melibatkan pembangunan sistem berdasarkan desain yang telah
disetujui:
· Pengkodean: Tim pengembang mulai
menulis kode untuk membangun aplikasi sesuai dengan spesifikasi desain.
· Integrasi Sistem: Mengintegrasikan
berbagai komponen sistem agar dapat berfungsi sebagai satu kesatuan.
· Pelatihan Pengguna: Memberikan
pelatihan kepada pengguna akhir agar mereka dapat menggunakan sistem dengan
efektif setelah diluncurkan.
5. Pengujian (Testing)
Setelah implementasi, sistem harus diuji untuk memastikan bahwa semuanya
berfungsi dengan baik:
· Uji Fungsional: Memastikan bahwa
semua fungsi dalam sistem bekerja sesuai spesifikasi.
· Uji Kinerja: Menguji kinerja
sistem di bawah berbagai kondisi untuk memastikan kecepatan dan
responsivitasnya.
· Uji Keamanan: Memastikan bahwa
sistem aman dari ancaman luar dan data pengguna terlindungi.
6. Pemeliharaan (Maintenance)
Setelah sistem diluncurkan, pemeliharaan menjadi penting untuk memastikan
keberlangsungan operasional:
· Perbaikan Bug: Menangani masalah
atau bug yang muncul setelah implementasi.
· Peningkatan Fitur: Menambahkan
fitur baru atau melakukan penyesuaian berdasarkan umpan balik pengguna atau
perubahan dalam lingkungan bisnis.
· Evaluasi Berkala: Melakukan
evaluasi berkala terhadap kinerja sistem untuk memastikan bahwa ia tetap
relevan dan efektif dalam memenuhi kebutuhan bisnis.
Kesimpulan
Tahapan-tahapan ini bersifat siklikal; jika ada perubahan kebutuhan atau
masalah baru muncul, proses dapat dimulai kembali dari tahap analisis atau
desain untuk memperbarui sistem sesuai kebutuhan. Dengan mengikuti tahapan ini,
perusahaan dapat mengembangkan sistem informasi yang efektif dan efisien yang
mendukung tujuan bisnis mereka.
c. Metodologi Pengembangan Sistem
Metodologi pengembangan sistem adalah kerangka kerja yang digunakan untuk
merencanakan, mengatur, dan mengendalikan proses pengembangan sistem informasi.
Metodologi ini mencakup serangkaian aktivitas, metode, praktik terbaik, dan
alat yang terautomasi untuk membantu pengembang dan manajer proyek dalam
menciptakan dan memelihara sistem informasi. Berikut adalah penjelasan rinci
mengenai metodologi pengembangan sistem.
Pentingnya Metodologi Pengembangan Sistem
1. Konsistensi Proses: Metodologi
memastikan bahwa semua langkah dalam pengembangan sistem dilakukan secara
konsisten, mengurangi risiko kesalahan.
2. Fleksibilitas: Dapat diterapkan
pada berbagai jenis proyek, baik kecil maupun besar, serta pada berbagai
industri.
3. Pengurangan Risiko: Mengurangi
kemungkinan kesalahan dan pengambilan jalan pintas yang dapat merugikan proyek.
4. Dokumentasi yang Konsisten:
Memastikan adanya dokumentasi yang memadai yang bermanfaat bagi anggota tim
baru dan untuk referensi di masa mendatang.
Jenis-jenis Metodologi Pengembangan Sistem
Berbagai metodologi telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan spesifik
dalam pengembangan sistem. Beberapa di antaranya meliputi:
1. System Development Life Cycle
(SDLC)
SDLC adalah metode tradisional dalam pengembangan sistem yang mencakup
tahapan dari perencanaan hingga pemeliharaan. Tahapan ini meliputi:
· Analisis Kelayakan: Menilai apakah
proyek dapat dilaksanakan secara teknis dan ekonomis.
· Analisis Kebutuhan: Mengumpulkan
dan mendokumentasikan kebutuhan pengguna.
· Desain Sistem: Merancang
arsitektur sistem berdasarkan kebutuhan yang telah diidentifikasi.
· Implementasi: Membangun dan
menerapkan sistem.
· Pengujian: Menguji sistem untuk
memastikan bahwa semua fungsi berjalan dengan baik.
· Pemeliharaan: Melakukan perbaikan
dan pembaruan setelah sistem diluncurkan.
2. Model Waterfall
Model Waterfall adalah pendekatan linier yang sederhana di mana setiap
fase harus diselesaikan sebelum melanjutkan ke fase berikutnya. Kelebihan dari
metode ini adalah:
· Kualitas Tinggi: Setiap fase
memiliki dokumentasi lengkap, sehingga kualitas sistem akhir cenderung lebih
baik.
· Organisasi yang Baik: Prosesnya
terstruktur dengan jelas, memudahkan tim dalam mengikuti setiap langkah.
Namun, model ini kurang fleksibel terhadap perubahan kebutuhan selama
proses pengembangan.
3. Model Prototyping
Model ini melibatkan pembuatan prototipe awal dari sistem yang akan
dikembangkan. Prototipe ini digunakan untuk mendapatkan umpan balik dari
pengguna sebelum pengembangan lebih lanjut dilakukan. Kelebihan dari model ini
adalah:
· Umpan Balik Pengguna: Memungkinkan
pengguna untuk memberikan masukan awal yang dapat digunakan untuk meningkatkan
desain akhir.
· Fleksibilitas: Memungkinkan
perubahan desain berdasarkan umpan balik pengguna secara iteratif.
4. Rapid Application Development
(RAD)
RAD adalah pendekatan yang menekankan kecepatan dalam pengembangan dengan
menggunakan alat bantu visual dan teknik pemodelan. Kelebihan RAD meliputi:
· Kecepatan Pengembangan:
Mempercepat proses pengembangan dengan mengurangi waktu antara desain dan
implementasi.
· Keterlibatan Pengguna: Melibatkan
pengguna secara aktif selama proses pengembangan untuk memastikan bahwa produk
akhir memenuhi kebutuhan mereka.
Kesimpulan
Pemilihan metodologi pengembangan sistem yang tepat sangat penting untuk
keberhasilan proyek. Setiap metodologi memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, sehingga perlu dipilih sesuai dengan konteks proyek, tujuan
bisnis, dan kebutuhan pengguna. Dengan menggunakan metodologi yang sesuai,
perusahaan dapat meningkatkan efektivitas proses pengembangan sistem informasi
mereka, menghasilkan produk berkualitas tinggi yang memenuhi ekspektasi
pengguna.
d. Pendekatan Pengembangan Sistem
Pendekatan pengembangan sistem adalah cara atau metode yang digunakan
untuk merancang dan mengimplementasikan sistem informasi. Pendekatan ini sangat
penting karena mempengaruhi bagaimana kebutuhan pengguna diidentifikasi,
bagaimana sistem dirancang, dan bagaimana sistem tersebut diimplementasikan.
Berikut adalah penjelasan rinci mengenai berbagai pendekatan dalam pengembangan
sistem.
1. Pendekatan Terstruktur (Structured
Approach)
Pendekatan terstruktur adalah metode yang berfokus pada penggunaan teknik
dan alat untuk merancang sistem secara sistematis. Ciri-ciri dari pendekatan
ini meliputi:
· Modularitas: Sistem dibagi menjadi
modul-modul kecil yang dapat dikembangkan secara independen, sehingga
memudahkan pemeliharaan dan pengembangan lebih lanjut.
· Dokumentasi yang Baik: Setiap
tahap pengembangan didokumentasikan dengan baik, memungkinkan semua anggota tim
memahami proses dan hasilnya.
· Pengurangan Waktu dan Biaya:
Dengan struktur yang jelas, waktu dan biaya pengembangan dapat diminimalkan.
2. Pendekatan Berorientasi Objek
(Object-Oriented Approach)
Pendekatan ini berfokus pada objek sebagai unit dasar dalam pengembangan
sistem. Beberapa karakteristik dari pendekatan ini adalah:
· Encapsulation: Objek
mengenkapsulasi data dan metode yang beroperasi pada data tersebut, sehingga
memudahkan pengelolaan kompleksitas.
· Inheritance: Memungkinkan objek
baru untuk mewarisi atribut dan perilaku dari objek yang ada, meningkatkan
efisiensi dalam pengembangan.
· Polimorfisme: Memungkinkan objek
untuk diperlakukan sebagai instansi dari kelas induk mereka, sehingga
meningkatkan fleksibilitas dalam penggunaan objek.
Pendekatan ini sering digunakan dalam metodologi seperti Object-Oriented
Analysis and Design (OOAD).
3. Prototyping
Prototyping adalah pendekatan iteratif di mana versi awal dari sistem
(prototipe) dikembangkan untuk mendapatkan umpan balik dari pengguna. Ciri-ciri
utama dari pendekatan ini meliputi:
· Iterasi: Prototipe dikembangkan,
diuji, dan diperbaiki secara berulang berdasarkan umpan balik pengguna.
· Kolaborasi Pengguna: Pengguna
terlibat langsung dalam proses pengembangan, memastikan bahwa sistem akhir
memenuhi kebutuhan mereka.
· Pengurangan Risiko: Dengan
mengidentifikasi masalah lebih awal melalui prototipe, risiko kesalahan dapat
diminimalkan.
4. Pendekatan Partisipatif
(Participatory Design)
Pendekatan ini melibatkan pengguna akhir dalam setiap tahap pengembangan
sistem. Beberapa keuntungan dari pendekatan ini adalah:
· Keterlibatan Pengguna: Pengguna
aktif berpartisipasi dalam desain dan pengembangan, memastikan bahwa kebutuhan
mereka dipenuhi.
· Peningkatan Kualitas Sistem:
Dengan masukan langsung dari pengguna, kualitas sistem akhir cenderung lebih
tinggi.
· Adaptasi yang Lebih Baik: Sistem
dapat disesuaikan dengan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan spesifik pengguna.
5. Pendekatan Bawah-Naik (Bottom-Up
Approach)
Pendekatan ini dimulai dari level bawah organisasi, yaitu dengan
mengidentifikasi kebutuhan operasional terlebih dahulu. Ciri-ciri dari
pendekatan ini adalah:
· Fokus pada Data: Menyusun
kebutuhan berdasarkan data transaksi yang ada sebelum naik ke level atas untuk
analisis lebih lanjut.
· Detail yang Mendalam: Memastikan
bahwa semua aspek operasional dipertimbangkan sebelum merumuskan kebutuhan
keseluruhan.
6. Pendekatan Atas-Turun (Top-Down
Approach)
Sebaliknya dari pendekatan bawah-naik, pendekatan ini dimulai dari level
atas organisasi dengan mendefinisikan sasaran strategis terlebih dahulu:
· Visi Jelas: Mengidentifikasi
tujuan organisasi dan kebijakan strategis sebagai dasar untuk merumuskan
kebutuhan sistem informasi.
· Analisis Terstruktur: Mengalir ke
bawah untuk menentukan kebutuhan informasi berdasarkan sasaran strategis
tersebut.
7. Pendekatan Modular
Pendekatan modular berusaha untuk memecah sistem kompleks menjadi
bagian-bagian atau modul-modul kecil yang lebih sederhana:
· Kemudahan Pemahaman: Setiap modul
dapat dipahami dan dikembangkan secara terpisah, memfasilitasi pemeliharaan dan
perbaikan di masa depan.
· Pengembangan Paralel: Modul-modul
dapat dikembangkan secara bersamaan oleh tim yang berbeda, mempercepat proses
pengembangan keseluruhan.
Kesimpulan
Pemilihan pendekatan pengembangan sistem yang tepat sangat penting untuk
keberhasilan proyek. Setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, serta cocok untuk konteks proyek tertentu. Dengan memahami
berbagai pendekatan ini, perusahaan dapat memilih metode yang paling sesuai
dengan kebutuhan mereka, memastikan bahwa sistem informasi yang dikembangkan
efektif dan efisien dalam memenuhi tujuan bisnis.
e. Alat & Teknik Pengembangan
Sistem
Alat dan teknik pengembangan sistem merupakan komponen penting dalam
proses pengembangan sistem informasi. Mereka membantu dalam merencanakan,
menganalisis, mendesain, mengimplementasikan, dan memelihara sistem dengan
lebih efisien dan efektif. Berikut adalah penjelasan rinci mengenai alat dan
teknik yang umum digunakan dalam pengembangan sistem.
Alat Pengembangan Sistem
1. Diagram dan Grafik
Alat-alat yang berbentuk diagram atau grafik sangat berguna untuk
menggambarkan proses dan struktur sistem. Beberapa jenis diagram yang sering
digunakan meliputi:
· HIPO Diagram: Digunakan dalam
metodologi HIPO untuk menggambarkan hierarki fungsi dari sistem.
· Data Flow Diagram (DFD):
Menunjukkan aliran data dalam sistem, membantu dalam memahami bagaimana data
bergerak dari input ke output.
· Structured Chart: Menggambarkan
struktur modul dalam sistem, menunjukkan hubungan antar modul.
· Entity Relationship Diagram (ERD):
Menggambarkan hubungan antara entitas dalam basis data, termasuk atribut dan
relasi.
· Gantt Chart: Digunakan untuk
perencanaan proyek, menunjukkan jadwal kegiatan dan durasi setiap tugas.
2. Alat Perancangan
Alat perancangan membantu dalam mendefinisikan bagaimana sistem akan
dibangun:
· Integrated Development Environment
(IDE): Menyediakan lingkungan terpadu untuk pengembangan perangkat lunak,
termasuk editor kode, debugger, dan alat bantu lainnya. Contoh IDE termasuk
Visual Studio dan Eclipse.
· Version Control System (VCS):
Memungkinkan pengembang untuk melacak perubahan dalam kode sumber dan bekerja
secara kolaboratif. Git adalah contoh VCS yang sangat populer.
3. Alat Uji
Alat uji digunakan untuk memastikan bahwa sistem berfungsi dengan baik:
· Testing Tools: Alat seperti JUnit
untuk pengujian unit atau Selenium untuk pengujian fungsional membantu
memastikan bahwa semua bagian dari aplikasi bekerja sesuai harapan.
· Debugging Tools: Membantu
pengembang menemukan dan memperbaiki bug dalam kode. Contoh alat debugging
termasuk GDB dan Visual Studio Debugger.
Teknik Pengembangan Sistem
1. Teknik Manajemen Proyek
Teknik manajemen proyek seperti CPM (Critical Path Method) dan PERT
(Program Evaluation and Review Technique) digunakan untuk penjadwalan proyek
dan mengelola sumber daya dengan lebih efisien.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan selama
analisis sistem:
· Wawancara: Mengumpulkan informasi
langsung dari pengguna atau pemangku kepentingan tentang kebutuhan mereka.
· Observasi: Mengamati proses yang
ada untuk memahami bagaimana sistem saat ini berfungsi.
· Kuesioner: Menggunakan daftar
pertanyaan untuk mendapatkan umpan balik dari pengguna tentang kebutuhan
mereka.
3. Analisis Biaya-Manfaat
Teknik analisis biaya/manfaat digunakan untuk mengevaluasi apakah
investasi dalam pengembangan sistem baru akan memberikan keuntungan yang lebih
besar dibandingkan biayanya. Ini membantu manajemen membuat keputusan yang
lebih baik tentang proyek yang akan dijalankan.
4. Inspeksi/Walkthrough
Teknik inspeksi atau walkthrough melibatkan tinjauan formal terhadap
dokumen atau kode oleh tim pengembang atau pemangku kepentingan lain untuk
menemukan kesalahan atau area yang perlu diperbaiki sebelum melanjutkan ke
tahap berikutnya.
Kesimpulan
Penggunaan alat dan teknik yang tepat dalam pengembangan sistem informasi
sangat penting untuk memastikan bahwa proses berjalan lancar dan hasilnya
memenuhi ekspektasi pengguna. Dengan memanfaatkan berbagai alat grafis,
perangkat lunak, serta teknik analisis dan manajemen proyek, tim pengembang
dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko kesalahan, dan menghasilkan
sistem berkualitas tinggi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.
5. Analisa Sistem
a. Definisi Analisa Sistem
Analisa sistem adalah proses atau metode untuk mempelajari, mengevaluasi,
dan memahami suatu sistem dengan tujuan mengidentifikasi masalah, menemukan
solusi, serta mengoptimalkan kinerja sistem. Proses ini melibatkan penguraian
sistem menjadi komponen-komponen untuk memahami hubungan antar bagian dan
mengevaluasi kebutuhan serta hambatan yang ada
b. Tahapan di dalam Analisa
Tahapan analisa sistem adalah proses yang terstruktur untuk memahami dan
mengevaluasi sistem yang ada. Berikut adalah langkah-langkah rinci dalam
tahapan ini:
1. Mengidentifikasi Masalah
Langkah pertama dalam analisa sistem adalah mengidentifikasi masalah yang
ada. Proses ini meliputi:
· Identifikasi Akar Masalah:
Menemukan penyebab utama dari masalah yang terjadi. Ini dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan mendalam untuk menggali lebih jauh tentang isu yang
dihadapi.
· Identifikasi Titik Keputusan:
Menentukan titik-titik dalam sistem di mana keputusan penting diambil, yang
dapat menyebabkan masalah jika tidak dikelola dengan baik. Diagram alir sering
digunakan untuk memvisualisasikan titik-titik ini.
· Identifikasi Personil Kunci:
Mengidentifikasi individu atau kelompok yang berperan penting dalam proses dan
dapat mempengaruhi keberhasilan solusi yang diusulkan.
2. Memahami Cara Kerja Sistem
Setelah masalah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah memahami
bagaimana sistem saat ini beroperasi:
· Pengumpulan Data: Melakukan
penelitian untuk mengumpulkan informasi tentang operasi sistem. Teknik yang
digunakan termasuk wawancara, observasi, kuisioner, dan sampling.
· Menentukan Teknik Pengumpulan
Data: Memilih metode pengumpulan data yang tepat berdasarkan jenis informasi
yang diperlukan. Misalnya, wawancara cocok untuk informasi mendalam, sedangkan
kuisioner lebih efisien untuk data dari banyak responden.
· Menentukan Jadwal Penelitian:
Merencanakan waktu untuk melakukan penelitian di setiap titik keputusan. Proses
ini bisa berlangsung dari beberapa minggu hingga bulan tergantung pada
kompleksitas sistem.
3. Menganalisis Sistem
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah menganalisis informasi
tersebut:
· Analisis Data: Menggunakan teknik
analisis untuk mengevaluasi data yang telah dikumpulkan dan mencari pola atau
masalah yang mungkin tidak terlihat sebelumnya.
· Identifikasi Kelemahan dan
Kebutuhan: Menentukan kelemahan dalam sistem saat ini dan kebutuhan pengguna
untuk merancang solusi yang lebih baik.
4. Membuat Laporan Hasil Analisis
Langkah terakhir adalah menyusun laporan hasil analisis:
· Dokumentasi Temuan: Mencatat semua
temuan dari analisis, termasuk masalah yang teridentifikasi, data yang
dikumpulkan, dan rekomendasi untuk perbaikan.
· Presentasi Hasil: Menyampaikan
hasil analisis kepada pemangku kepentingan agar mereka dapat memahami situasi
saat ini dan mendiskusikan langkah-langkah selanjutnya.
Dengan mengikuti tahapan-tahapan ini secara rinci, analis sistem dapat
memastikan bahwa mereka memiliki pemahaman yang komprehensif tentang sistem
yang ada dan dapat merancang solusi yang efektif untuk perbaikan.
c. Analisa Kebutuhan Sistem:
Fungsional & Non Fungsional
Analisa Kebutuhan Sistem: Fungsional Dan Non Fungsional
1. Kebutuhan Fungsional
Kebutuhan fungsional adalah deskripsi tentang apa yang harus dilakukan
oleh sistem untuk memenuhi tujuan pengguna atau bisnis. Kebutuhan ini mencakup
fitur dan fungsi utama yang diperlukan dalam sistem. Berikut penjelasan rinci:
· Definisi: Kebutuhan fungsional
mengacu pada spesifikasi tugas atau proses yang harus dilakukan oleh sistem,
seperti pengolahan data, pencarian informasi, atau pelaporan hasil.
· Contoh:
a. Sistem perpustakaan harus
memungkinkan pengguna untuk mencari buku berdasarkan judul, penulis, atau
kategori.
b. Aplikasi e-commerce harus
menyediakan fitur keranjang belanja dan pembayaran online.
· Karakteristik:
a. Mudah diidentifikasi karena
berhubungan langsung dengan aktivitas pengguna.
b. Berfokus pada apa yang dilakukan
oleh sistem.
2. Kebutuhan Non Fungsional
Kebutuhan non fungsional adalah deskripsi tentang bagaimana sistem
bekerja. Kebutuhan ini mencakup aspek kualitas, batasan teknis, dan
karakteristik operasional dari sistem. Berikut penjelasan rinci:
· Definisi: Kebutuhan non fungsional
menggambarkan persyaratan pendukung yang memastikan sistem berfungsi dengan
baik, seperti keamanan, performa, skalabilitas, atau keandalan.
· Contoh:
a. Sistem harus merespons permintaan
pengguna dalam waktu kurang dari 2 detik.
b. Data pengguna harus dienkripsi
untuk menjaga keamanan.
· Karakteristik:
a. Lebih sulit diidentifikasi
dibandingkan kebutuhan fungsional karena sering kali bersifat abstrak.
b. Berfokus pada kualitas dan batasan
teknis.
Perbedaan Kebutuhan Fungsional Dan Non Fungsional
|
Aspek |
Kebutuhan Fungsional |
Kebutuhan Non Fungsional |
|
Fokus |
Apa yang dilakukan
oleh sistem |
Bagaimana sistem
bekerja |
|
Contoh |
Pencarian data,
pengolahan informasi |
Waktu respon
cepat, keamanan data |
|
Identifikasi |
Mudah |
Sulit |
|
Tujuan |
Memenuhi fungsi
utama |
Mendukung fungsi
utama |
Metode Identifikasi dan Verifikasi
1. Identifikasi Kebutuhan Fungsional:
· Pengumpulan data melalui
wawancara, observasi, atau survei.
· Pemodelan proses bisnis untuk
memahami alur kerja pengguna.
2. Identifikasi Kebutuhan Non Fungsional:
· Menggunakan standar seperti
ISO/IEC 25010 untuk mendefinisikan atribut kualitas (misalnya performa,
keamanan).
· Mengatasi masalah ambiguitas dan
konflik antar kebutuhan dengan pemodelan khusus.
3. Verifikasi Kebutuhan Non Fungsional:
· Pemodelan kebutuhan menggunakan
teknik seperti Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) atau Model Driven
Engineering.
· Prioritas kebutuhan berdasarkan
dampaknya terhadap kepuasan pemangku kepentingan.
Dengan memahami kedua jenis kebutuhan ini secara rinci, pengembang dapat merancang sistem yang tidak hanya memenuhi tujuan bisnis tetapi juga memberikan pengalaman pengguna yang optimal.



Komentar
Posting Komentar